
Yogyakarta, 15 Agustus 2026 – Spatial Ethnography berkolaborasi dengan Klub Membaca Djiwa Zaman menyelenggarakan lokakarya pembuatan zine bertajuk “Zine Making: Mengingat Ruang di Sekitar Kita” di Rumah Ayam by ViaVia Jogja, Kota Yogyakarta. Kegiatan ini mengajak peserta mengeksplorasi kembali hubungan antara manusia, ruang, pengalaman, dan ingatan melalui zine sebagai medium ekspresi visual dan naratif.
Lokakarya dipandu oleh Tarlen Handayani, pengurus Klub Membaca Djiwa Zaman sekaligus fellow Spatial Ethnography, dan dibuka oleh Abellia Anggi Wardani, Principal Investigator Spatial Ethnography. Kegiatan ini diikuti oleh 15 peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari profesional, akademisi, hingga organisasi masyarakat sipil.
Menurut Abellia, kegiatan ini merupakan salah satu output dari program dana hibah PUTI yang diterima oleh Spatial Ethnography dan dilaksanakan melalui kolaborasi dengan Tarlen Handayani sebagai salah satu fellow Spatial Ethnography.
“Zine Making Workshop merupakan salah satu kegiatan Spatial Ethnography yang dilaksanakan bersama Klub Membaca Djiwa Zaman, di mana pengurusnya merupakan salah satu fellow Spatial Ethnography, Ibu Tarlen Handayani. Melalui kegiatan ini, kami berharap peserta dapat melihat ruang tidak hanya sebagai peta, tetapi juga sebagai sesuatu yang memiliki makna melalui pengalaman dan perspektif etnografi.”

Selama lokakarya, peserta diajak mengingat kembali ruang-ruang yang memiliki arti personal dan merefleksikan bagaimana ruang tersebut membentuk pengalaman hidup mereka. Proses ini membawa sejumlah peserta pada memori masa kecil, seperti rumah, lingkungan tempat bermain, jalan yang dilalui sehari-hari, maupun tempat-tempat yang pernah mereka tinggali atau kunjungi.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa ruang tidak hanya hadir sebagai lokasi fisik, tetapi juga menjadi bagian dari ingatan dan kehidupan seseorang. Pertukaran cerita antarpeserta yang berasal dari berbagai daerah dan latar belakang turut memperlihatkan bahwa ruang yang sama dapat memiliki makna yang berbeda bagi setiap orang.
Abdul Waris, salah satu peserta, menyampaikan:
“Workshop ini tidak hanya mengajak saya merefleksikan ruang yang pernah saya alami, tetapi juga melihat ruang melalui cerita dan imajinasi peserta lain. Beragam cara mereka merepresentasikan ruang membuka perspektif baru bagi saya dalam memahami makna ruang.”
Hal tersebut sejalan dengan pandangan Tarlen Handayani mengenai proses pembelajaran dalam workshop:
“Melalui workshop ini, kita belajar melihat ruang dari perspektif baru dengan mengingat kembali ruang-ruang yang pernah kita lalui dan memahami bagaimana ruang tersebut memiliki makna dalam kehidupan kita.”
Dalam prosesnya, zine tidak hanya digunakan sebagai karya kreatif, tetapi juga sebagai medium untuk mendokumentasikan pengalaman dan memori personal mengenai ruang. Melalui tulisan, gambar, kolase, dan berbagai elemen visual, peserta menerjemahkan pengalaman mereka ke dalam bentuk yang personal dan reflektif.
Lokakarya ini menjadi ruang pertemuan antara perspektif akademik, pengalaman profesional, pengetahuan masyarakat, dan praktik kreatif. Kolaborasi tersebut membuka kesempatan untuk memahami ruang tidak hanya melalui pendekatan spasial, tetapi juga melalui pengalaman sosial dan budaya yang melekat di dalamnya.

Kolaborasi antara Spatial Ethnography dan Klub Membaca Djiwa Zaman menunjukkan pentingnya menciptakan ruang dialog yang mempertemukan penelitian, praktik kreatif, dan pengalaman keseharian. Melalui medium zine, peserta tidak hanya membuat sebuah karya, tetapi juga diajak untuk mengingat, membaca, dan memaknai kembali ruang yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup mereka.
Melalui berbagai kegiatan yang mempertemukan penelitian, praktik kreatif, dan pengalaman keseharian, Spatial Ethnography terus mendorong terciptanya ruang dialog dan pertukaran pengetahuan yang inklusif, reflektif, dan lintas disiplin dalam memahami hubungan antara ruang dan kehidupan sosial.





Leave a comment